Minggu, 11 Februari 2018 14:16 WITA

Ternyata Prof Quraish Shihab Pernah Gabung Klub Raksasa Mesir

Editor: Abu Asyraf
Ternyata Prof Quraish Shihab Pernah Gabung Klub Raksasa Mesir
Stadion Darussalam Gontor, lebih megah dibandingkan kebanyakan stadion tingkat kabupaten di Indonesia.

RAKYATKU.COM - Jauh sebelum Ustaz Yusuf Mansur terjun di sepak bola, sejumlah kiai telah lebih dahulu memulainya. Cerita berikut ini bisa membuat orang geleng-geleng kepala.

Stadion Darussalam Gontor salah satu bukti nyata betapa sepak bola telah menyatu dengan pesantren. Stadion yang cukup megah ini untuk ukuran pesantren banyak mengalahkan stadion tingkat kabupaten di Indonesia. 

Stadion ini diresmikan pada Mei 2016 yang ditandai laga ekshibisi antara Persik Kediri melawan Deltras Sidoarjo. "Luar biasa. Rumput stadion sudah standar internasional. Jenis rumputnya seperti dimiliki stadion-stadion besar di Indonesia. Ini bukti pondok pesantren juga peduli membangun fisik para santri, selain ilmu-ilmu agama Islam," tutur ujar Manajer Operasional Persik Rudi Hermanto, ketika itu.

Salah satu pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal memang dikenal "gila bola". Seorang penulis, Muhammad Yulian Ma'mun menulis bagaimana kegilaan KH Hasan terhadap sepak bola. Kiai berusia 70 tahun ini pernah terekam kamera sedang bersama bintang tim nasional Jerman, Mesut Oezil. Keduanya bertemu di salah satu restoran Turki di kota London.

Dikutip dari Panditfootball, keberadaan Kiai Hasan dan rombongan di ibu kota Inggris adalah dalam rangka education journey penandatanganan MoU antara Universitas Darussalam Gontor dengan beberapa perguruan tinggi di Britania. Kiai Hasan bersantap di rumah makan ini karena menunya yang terjamin halal bagi Muslim. Sedangkan Oezil yang keturunan Turki menikmati kuliner warisan leluhurnya.

Seperti ditulis Yulian, semasa muda, putra dari salah satu trio kiai pendiri Pondok Gontor, KH Ahmad Sahal ini merupakan pemain andal. Ada kalanya beliau memimpin salat Jumat dengan syahdu, membakar semangat ala singa podium, atau mengayomi santri bak anak kandungnya. Kesemuanya menjadi pelengkap karakter beliau yang multidimensi.

"Sewaktu saya berkesempatan mondok di Gontor medio 2003-2006, kami para santri sering melihat beliau ikut latihan bersama di lapangan bersama para santri. Memang kecepatan dan fisiknya tidak segarang dulu, tapi dari sentuhannya kelihatan ia adalah sosok berkemampuan tinggi. Penempatan posisi di kotak penalti juga ciamik," tulis Yulian.

Dia mengaku pernah berada satu lapangan dengan Kiai Hasan di arena futsal pada sebuah turnamen yang digelar alumni Gontor beberapa tahun silam. "Itu sewaktu saya sudah lulus dari pondok dan jadi mahasiswa tingkat akhir di salah satu universitas. 'Nanti kalau pak Kyai dapat bola, kita agak longgar mainnya, jangan terlalu serius'," kenang Yulian.

"Kyai Hasan kami berikan kehormatan untuk melakukan sepak mula. Dalam hitungan detik beliau membagi bola ke area sayap dengan satu-dua sentuhan. Rekan yang ada di sayap kiri melakukan penetrasi melewati beberapa pemain lalu memberikan umpan tarik ke bibir kotak penalti. Entah bagaimana caranya Ustadz Hasan sudah ada di sana dan menghajar bola dengan tendangan keras menyusur tanah selayak Francesco Totti!" lanjutnya.

Bukan hanya Kiai Hasan, beberapa kiai lain juga hobi sepak bola. Termasuk KH Abdullah Syukri Zarkasyi, yang juga memimpin Gontor. Sewaktu kuliah di Mesir tahun 70-an ia adalah bagian dari “timnas” mahasiswa Indonesia di Asrama Madinatul Bu’uts, Universitas Al-Azhar Kairo. Hal ini terungkap dalam biografi Professor Quraish Shihab, ulama tafsir Indonesia yang mendunia. Di dalam buku itu terdapat foto Kiai Syukri bersama Pak Quraish dan KH Mustofa Bisri dalam satu tim sebelum bertanding di lapangan.

Ternyata Prof Quraish Shihab Pernah Gabung Klub Raksasa Mesir

Quraish Shihab muda (jongkok kedua dari kanan/kacamata)

Diceritakan pula bahwa ayah dari jurnalis Najwa Shihab ini adalah seorang bek andal yang sempat bergabung tim junior Zamalek, kesebelasan asal Kairo. Sebagai informasi, Zamalek bersama Al-Ahly adalah dua klub raksasa asal ibu kota Mesir. Rivalitas keduanya tak kalah panas dari persaingan duo Spanyol, Barcelona dan Real Madrid. Mantan pemain klub berjuluk “Al Qal’ah Al Baydha atau Benteng Putih” ini antara lain Hazem Emam (pernah di Udinese dan 90an) dan Mido (Ajax).

Berita Terkait