19 May 2017 13:16 WITA

Karir Syamsul di Garis Akhir

Editor: Sulaiman Abdul Karim
Karir Syamsul di Garis Akhir
Syamsul Chaeruddin.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Nama Syamsul Chaeruddin sudah tak asing di telinga suporter PSM Makassar, bahkan pecinta sepakbola nasional. Gelandang energik yang merupakan legenda hidup Pasukan Ramang. 

Tapi nama Syamsul kini tak lagi terdengar. Selama gelaran Gojek Traveloka Liga 1, Syamsul baru sekali menginjakkan kaki di lapangan pertandingan.

Itupun sebagai pemain pengganti saat PSM Makassar menang melawan Perseru Serui. Padahal dalam satu dekade terakhir, Syamsul adalah pilihan utama di lini tengah, dengan ban kapten melingkar di lengannya.

Menurunkah performa Syamsul? Bisa jadi. Tapi satu hal yang benar-benar membuat karirnya di garis akhir, adalah regulasi liga. Yakni kewajiban setiap klub memasang tiga pemain U23 di Starting XI. Pun penggantinya harus pemain seumuran. 

Praktis, pilihan Pelatih PSM Makassar, Robert Alberts, menjauh dari Syamsul. Asnawi Mangkualam dan Muhammad Arfan yang "mengambil" jatah sang legenda. 

Belum lagi tambah ketatnya persaingan. Di tengah, PSM Makassar menemukan sosok andalan baru, Marc Anthony Klok. Untuk menggesernya, Syansul harus bersaing dengan Rezky Pellu dan Rasyid Bakrie. 

Kecewakah Syamsul? dalam berbagai kesempatan, mantan pilar Persija Jakarta dan Sriwijaya FC ini menyiratkannya. Bagi dia, regulasi pemain muda memang cukup menghalanginya untuk tampil reguler. 

"Sebagai pemain saya tentu ingin tampil bersama PSM di setiap pertandingan. Tapi, saya harus mematuhi keputusan coach Robert. Karena ini ada kaitannya juga dengan regulasi Liga 1," tutur Syamsul beberapa waktu lalu.

Selain Syamsul, ada beberapa nama-nama beken yang tenggelam di Gojek Traveloka Liga 1. Semisal Achmad Bustomi di Arema FC. Menjadi motor Arema menjuarai ISL musim 2010, tak lantas membuat Bustomi sebagai pilihan utama musim ini. Apalagi, umurnya memang sudah senja bagi pesepakbola, 32 tahun. 

Nama-nama lainnya yang tenggelam adalah Benny Wahyudi (Arema), Zulham Zamrun (Mitra Kukar) dan Ramdani Lestaluhu (Persija Jakarta).