Kamis, 11 Mei 2017 15:34 WITA

Real Madrid vs Juventus; Loyalitas vs Kuasa Materi

Editor: Almaliki
Real Madrid vs Juventus; Loyalitas vs Kuasa Materi

RAKYATKU.COM - Melenggangnya Juventus dan Real Madrid ke final Liga Champions 2016/17. Membuat beberapa sejarah harus kembali teringat. Pertama, Zidane pernah menjadi pemain Juventus. Namanya moncer di Juventus karena banyak alasan, salah satunya di Juventus lah skill 'Roulette' atau 'Marseille Turn' dikenal.

Sampai pada akhirnya, Juventus harus melepas Zizou ke Real Madrid. Di sana, ia juga membuktikan kalau ia pemain yang jenius dan pandai. Atas kedua hal itu, Zidane sudah menjadi Pelatih di Real Madrid.

Real Madrid vs Juventus; Loyalitas vs Kuasa Materi

Sebentar lagi, di Cardiff, ia akan bertemu dengan rekan setimnya dulu yakni Gianluigi Buffon. Kiper nomor satu Italia itu hingga saat ini masih mengawal gawang Si Nyonya Tua. Buffon datang ke Juventus di musim 2001-02 bersamaan dengan Lilian Thuram, dan Pavel Nedved. Keduanya kini sudah pensiun.

Berbicara Buffon mesti berbicara cintanya kepada klub. Bagaimana tidak, Juventus pernah didakwa terlibat dalam skandal Calciopoli, dan sebagai akibatnya, Juventus terpaksa melepas dua gelar Serie A di 2004-05 dan 2005-06 serta terkena hukuman turun ke Serie B.

Jatuhnya Juventus membuat satu pemain pergi. Adalah Ibrahimovich. Selebihnya, termasuk Buffon, memilih bertahan di Juventus. Pernah terdengar desas-desus kalau Buffon akan dilepas oleh Juventus untuk menghemat biaya.

Hal itu bukan isapan jempol belaka, sebab Manchester United, AC Milan, dan Real Madrid menginginkan jasanya. Ada pula kabar pada April 2007, Wakil Presiden Milan, Adriano Galliani menyatakan bahwa Buffon telah setuju untuk dikontrak, dan menggantikan Dida. Hal ini kemudian dibantah oleh Buffon, yang menyatakan bahwa ia tidak pernah dihubungi oleh pihak Milan.

Juventus dan Buffon tampaknya sehati. Pintu transfer untuk Buffon tertutup. Buffon sama sekali tidak minder timnya turun kasta. Bahkan dengan percaya diri, Serie B, disebut Buffon, adalah sebuah divisi yang belum pernah Juventus menangi, dan akan sangat menyenangkan jika Juve bisa menjuarainya.

Kini, timnya tersebut sudah jauh melangkah. Bertahun-tahun ia dan Si Nyonya Tua meninggalkan pil pahit hukuman turun kasta. Tetapi, patut diingat, Juventus hanyalah andal di Serie A saja. Bukannya tak superior di Liga Champions, Juventus hanya mampu menatap final saja pada tahun 1973, 1983, 1997, 1998, 2003, 2015. Buffon sama sekali belum pernah memeluk Si Kuping Lebar!

Real Madrid vs Juventus; Loyalitas vs Kuasa Materi

Sementara Zidane jangan ditanya. Baik di Juventus dan Real Madrid, namanya terukir manis. Tetapi nasibnya sama dengan Buffon, di Juventus, ia tak berhasil membawa I Bianconeri menjuarai Liga Champions pula.

Sedikit mengulik sejarah, pada awal 1996-1997, Zidane resmi bergabung dengan Juventus. Pada musim tersebut, Zidane berhasil menjuarai Serie A, Piala Interkontinental (kini Piala Dunia Antarklub), serta membawa Juventus kembali tampil di final Liga Champions.

Saat itu Bianconeri berharapan dengan wakil Bundesliga, Borussia Dortmund. Sayangnya, Zidane dipencundangi oleh Borussia yakni 1-3. Musim berikutnya, 1997-1998, Juventus kembali tampil di final untuk ketigakalinya secara berturut-turut. Kali ini Bianconeri harus berhadapan dengan Real Madrid untuk kembali mengukir prestasi.

Namun, sebiji gol Predrag Mijatovic untuk Los Merengues menjadi penentu kemenangan 1-0 Si Putih atas Si Nyonya Besar pada laga yang digelar di Amsterdam Arena itu. Meski begitu, Zidane berhasil menyabet gelar pemain terbaik dunia versi FIFA atau yang kini dikenal sebagai FIFA Ballon d'Or.

Lama-kelamaan, pria kelahiran Marseille, 23 Juni 1972 itu lantas berpikir kalau sebenarnya ia tidak berjodoh dengan Liga Champions bersama Juventus. Ia pun hijrah dan melengkapi proyek Los Galacticos Florentino Perez. 77,5 juta euro (sekitar RP 1,14 triliun) bukan angka yang sedikit untuk memindahkan Zidane ke Madrid.

Tepat! Pada musim pertama Zidane di sana, ia langsung berhasil menyabet gelar tersebut. Bahkan, raihan trofi Liga Champions tersebut berhasil dipastikan berkat tendangan voli kaki kirinya untuk membawa Madrid menang 2-1 atas Bayer Leverkusen.

Dari sini bisa dibandingkan, apakah kuasa materi akan dikalahkan dengan sebuah harga loyalitas? Kita tunggu saja!