Kamis, 04 Mei 2017 11:21 WITA

Zidane di Hadapan Pintu Menuju Masa Lalu

Editor: Almaliki
Zidane di Hadapan Pintu Menuju Masa Lalu

RAKYATKU.COM - Masih ingat Marcelo Lippi? Ia adalah pelatih Juventus di era 90-an. Saat itu, masih teringat betapa hebatnya Si Nyonya Tua dengan pemainnya yang moncer yakni Zinedine Zidane, Alessandro Del Piero, Didier Deschamps, Edgar Davids, Ciro Ferrara dan Filippo Inzaghi.

Di zaman itulah, Juventus pernah disayat oleh Real Madrid. Menang dari AS Monaco di semifinal Liga Champions 1997/98, mimpi Juventus memeluk Si Kuping Besar harus kandas sebab sebiji gol dari Predrag Mijatovic lalu membawa Madrid juara.

Kini, zaman sudah berubah. Zidane sekarang telah melatih Real Madrid. Tim yang pernah mengandaskan mimpinya sekaligus klub yang membawa namanya melejit itu kian dekat dengan partai final Liga Champions 2016/17. Saat ditemui beberapa awak media setempat, Zidane enggan banyak bicara. Ia hanya berujar diplomatis. 

"Kami senang dengan apa yang kami lakukan sejauh ini, tapi kami belum tiba di final. Kami masih harus bermain pada leg kedua pekan depan," ucap Zidane.

Tetapi sejarah berbicara lain soal itu. Zidane sendiri masih mencintai Juventus. Sinyal itu diberikan beberapa waktu yang lalu. "Saya ingin menghindari Juventus, tapi kami tak bisa melakukan apa-apa soal itu dan kita lihat saja bagaimana hasil undiannya," ucap Zidane kepada Mediaset Premium, sebelum Madrid maju ke 16 besar Liga Champions 2016/17.

"Saya tak ingin dipertemukan dengan Juventus karena alasan hati, dan juga fakta mereka adalah tim yang sangat tangguh," tambahnya.

Bagaimana tidak cinta, dua gelar Liga Italia, satu Piala Super Italia, satu Piala Super Eropa, satu Piala Interkontinental, dan satu Piala Intertoto bersama Juventus ia dapatkan. Melihat kenyataan itu, tak heran kalau Zidane begitu emosional mengingat Juventus. Apalagi, Real Madrid kemungkinan besar akan bertemu mantan klubnya itu setelah Juventus mengalahkan Monaco dengan skor 2-0.

Kini Zidane secara tidak langsung berdiri di pintu menuju masa lalu. Banyak hal darinya yang akan diingat-ingat kembali. Apalagi, Zidane sudah menjadi pelatih. Tentunya begitu emosional, jika final sarat sejarah antara Juventus sua Real Madrid benar-benar terjadi dalam waktu dekat ini.

Waktu sudah terlampau jauh. Zidane harus benar-benar mempersiapkan mental dan kekuatan, jika ia berhasil mengubur mimpi Juventus kedua kalinya, setelah Mijatovic, tanpa ampun mengubur mimpi-mimpinya saat berbaju hitam-putih.

Mengingat Zidane Lewat Predrag Mijatovic

"Saya ingat final 1998, Zidane menjadi fokus kami," kata Mijatovic kepada Goal Internasional secara eksklusif beberapa tahun yang lalu.

"Kami berusaha setiap saat dan tenaga untuk menghentikannya. Juventus begitu hebat di musim itu, di Serie A. Zizou adalah pemain kunci mereka. Sementara kami malah terseok-seok di liga. Jika saja kami tak kembali dari Amsterdam dengan gelar juara di tangan, saya tak tahu bagaimana kami bisa menghadapi pendukung kami."

"Di pertandingan itu, kami bisa meredam Zidane. Christian Karembeu diberikan tanggung jawab menjaganya. Ia rekan satu tim Zidane di tim nasional dan ia tahu bagaimana mengatasi Zidane."

"Zidane memulai dengan baik dan bahkan sempat melepas sejumlah sepakan berbahaya, tapi saat berlalunya waktu, ia menunjukkan penurunan kualitas."

Meski berhasil mengandaskan Juventus saat itu, Mijatovic memuji Zidane setinggi langit. "Suatu kepuasan besar bisa menduduki posisi yang lebih baik dari pemain seperti Zidane. Tapi saya bukan yang terbaik, dan itu sudah menjadi ambisi setiap pemain," terangnya.