Senin, 16 Desember 2019 15:27 WITA

Di Tiongkok, Kritik Oezil soal Muslim Uighur Berdampak Serius untuk Arsenal

Editor: Nur Hidayat Said
Di Tiongkok, Kritik Oezil soal Muslim Uighur Berdampak Serius untuk Arsenal
Mesut Oezil. (Foto: Muslim Obsession)

RAKYATKU.COM - Media pemerintah Tiongkok memperingatkan Mesut Ozil, kritiknya mengenai perlakuan terhadap Muslim Uighur di Tiongkok akan menimbulkan dampak serius terhadap Arsenal.

Setelah cuitannya viral di Tiongkok, stasiun televisi CCTV mencabut tayangan laga Liga Inggris antara Arsenal dan Manchester City dari daftar acaranya. Langkah serupa ditempuh layanan streamingPPTV.

Dalam tulisan editorialnya, the Global Times—yang merupakan media partai berkuasa Tiongkok—menuding pemain berusia 31 tahun itu sebagai 'orang yang bingung, sembrono memakai pengaruhnya, gampang terhasut, dan bersedia menghasut orang lain'.

Lebih lanjut, harian tersebut menulis citra Ozil telah rusak di kalangan pendukung Tiongkok dan akan berdampak serius terhadap Arsenal.

"Komentar Oezil tidak hanya melukai fans-nya dari Tiongkok, tetapi juga melukai perasaan rakyat Tiongkok."

Oezil, pemain Jerman keturunan Turki, melontarkan cuitan mengenai perlakuan Tiongkok terhadap minoritas Muslim di kawasan Xinjiang. Dia juga mengritik negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim lantaran bungkam soal dugaan penyiksaan Muslim Uighur.

loading...

Menanggapi cuitan Ozil, Arsenal mengunggah pesan di media sosial Tiongkok, Weibo, pernyataan tersebut adalah opini pribadi Ozil dan Arsenal punya kebijakan tidak melibatkan diri dalam politik.

Pemerintah Tiongkok telah berkali-kali mengklaim, umat Muslim Uighur diperlakukan dengan baik tanpa diskriminasi.

Adapun kamp-kamp yang terletak di wilayah Xinjiang barat itu menawarkan pendidikan dan pelatihan secara sukarela, seperti diklaim pemerintah.

Namun, sejumlah dokumen rahasia yang bocor untuk pertama kalinya merinci upaya pemerintah Tiongkok mencuci otak ratusan ribu muslim secara sistematis dalam jaringan kamp-kamp penjara dengan penjagaan ketat.

Sumber: BBC Indonesia

Loading...
Loading...