Sabtu, 14 September 2019 16:36 WITA

China Naturalisasi Pemain asing demi Lolos Piala Dunia, Syaratnya Rumit

Editor: Nur Hidayat Said
China Naturalisasi Pemain asing demi Lolos Piala Dunia, Syaratnya Rumit
President China, Xi Jinping (tendang bola) adalah seorang penggemar sepak bola dan punya rencana ambisius untuk mengembangkan sepak bola di China. (FOTO: GETTY IMAGES)

RAKYATKU.COM - Saat China berkiprah pada laga kualifikasi Piala Dunia 2022, pandangan mata pengamat sepak bola mengarah ke dua pemain tim nasional negara itu.

Mereka adalah Nico Yennaris, pemain berusia 26 tahun kelahiran London, serta Elkeson dari Brasil yang berusia 30 tahun. Keduanya masuk dalam skuad China yang menaklukkan Maladewa 5-0 pada laga tandang, Selasa (10/9/2019) lalu.

Pada debutnya, Elkeson mencetak dua gol. Adapun Yennaris masuk dalam daftar pemain cadangan, tetapi tidak dimainkan.

Keberadaan mereka tercatat pada sejarah sepak bola China mengingat itulah pertama kalinya pemain naturalisasi memperkuat tim nasional dalam pertandingan kompetitif.

Hal ini menandai langkah yang besar—sebuah negara dengan populasi 1,4 miliar jiwa kini membolehkan "orang asing" membela timnas demi lolos putaran final Piala Dunia.

Sebelum laga melawan Maladewa, wacana memasukkan pemain asing ke dalam timnas sudah mengemuka selama bertahun-tahun. Terwujudnya wacana tersebut dilaporkan merupakan salah satu syarat yang diajukan Marcelo Lippi untuk kembali menjabat pelatih timnas China—selain tentu saja nilai kontrak yang besar.

Sebelumnya, Lippi—yang pernah mengantarkan Italia sebagai juara Piala Dunia pada 2006—hengkang dari jabatannya sebagai pelatih timnas China setelah negara itu tersingkir dari Piala Asia.

Sejak saat itu, topik naturalisasi pemain menjadi topik yang hangat dibahas dalam berita olahraga di China.

Kini, setelah Yennaris dan Elkeson, masih ada pemain-pemain asing lainnya yang menjadi warga negara China.

Bagaimana caranya? Selain beragam aturan FIFA yang harus dipatuhi, masih ada enam kriteria yang mereka harus dipenuhi.

1. Punya setidaknya satu orang tua atau kakek/nenek asal China

China memang ingin meningkatkan performa di lapangan sepak bola, namun negara itu tidak ingin pemain yang benar-benar 'asing'.

Karena itu, ketika hendak menaturalisasi pemain, China memulainya dengan melacak pemain-pemain keturunan China.

Pada Januari lalu, Beijing Sinobo Guoan FC, salah satu klub besar yang berkiprah di Liga Super (CSL), dengan bangga mengumumkan perekrutan Nico Yennaris dan John Hou Saeter. Keduanya terdaftar sebagai pemain China.

Mereka adalah dua pemain naturalisasi perdana dalam sejarah sepak bola China.

Walau keduanya tidak pernah tinggal di China, mereka berhak membela timnas China karena punya garis keturunan China dari pihak ibu.

Kedua pemain tersebut mengutarakan kegirangan mereka setelah beberapa bulan bermain di negara itu.

"Ibu saya lahir di China. Akan menjadi kehormatan bagi keluarga saya jika saya bermain untuk China," kata Hou Saeter kepada media China pada April lalu.

Yennaris, di sisi lain, mengaku tahu bahwa dirinya punya "darah" China.

Dari keduanya, hanya Yennaris yang dipanggil bergabung dengan timnas dan dia telah bermain dalam laga persahabatan pada Juni lalu. Meski demikian, Hou Saeter masih punya harapan mengingat dia masih berusia 21 tahun.

2. Berlatih di klub Eropa yang tersohor

Meski naturalisasi kini diperbolehkan dalam sepak bola China, kualitas pemain diutamakan.

Pasalnya, prioritas China saat ini adalah lolos ke putaran final Piala Dunia. Negara tersebut sejatinya pernah satu kali menembus kompetisi elite itu pada 2002, namun kalah tiga kali tanpa pernah mencetak gol.

Bahkan, pada Piala Dunia U-20, China gagak menembus kualifikasi sejak 2005.

Presiden Xi Jinping telah memulai strategi besar guna mendorong sistem pelatihan pemain belia, namun itu strategi jangka panjang. Pemain-pemain asing diharapkan bisa membantu China meraih sukses dalam waktu dekat.

Yennaris adalah jebolan akademi pemain muda Arsenal, sedangkan Hou Saeter adalah pemain termuda yang mengawali debutnya untuk klub Norwegia, Rosenberg.

Keduanya bahkan pernah bermain untuk negara kelahiran mereka pada usia belia.

Di samping mereka, tujuh kali juara Liga Super, Guangzhou Evergrande, telah menggaet Tyias Browning dari Everton pada Februari lalu. Kakek Browning dilaporkan berasal dari Guangdong kemudian pindah ke Inggris pada 1960-an.

Media China melaporkan pada Juli lalu, Browning telah mendapat kewarganegaraan China. Meski demikian, FIFA masih meninjau kepatutannya untuk memperkuat timnas China.

3. Berlaga dengan baik di klub China

Loading...

Pada Agustus lalu, timnas China memanggil Elkeson yang kelahiran Brasil. Uniknya, dia bukan keturunan China tapi telah bermain di China selama enam tahun.

Itu artinya, walau seorang pemain bukan keturunan China, bukan berarti peluang pemain itu untuk bergabung dengan timnas China langsung nihil.

Kendati begitu, untuk negara yang etnik Han-nya begitu dominan, pemain yang masuk kriteria tersebut harus sangat spesial.

Elkeson mampu memenuhi kriteria itu. Dia adalah pencetak gol terbanyak sepanjang masa di Liga Super dengan 103 gol dan masih terus bertambah.

Dengan catatan yang sedemikian berkilau, para pendukung timnas China serta Marcelo Lippi berharap Elkeson mampu menjebol gawang lawan.

Jika dia kurang bagus, Ricardo Goulart yang bermain untuk Evergrande bisa menggantikannya setelah dilaporkan melepas paspor Brasil dan dalam proses mendapatkan kewarganegaraan China.

4. Melepaskan kewarganegaraan

Lionel Messi bisa punya paspor Spanyol dan tetap dapat membela timnas Argentina. Namun, sistem dwikewarganegaraan semacam itu tidak berlaku di China.

Artinya, begitu seseorang mendapat kewarganegaraan China, dia tidak bisa punya paspor negara lain.

Jumlah tenaga kerja asing di China baru-baru ini meningkat. Namun, ketika seseorang sudi menanggalkan paspor Inggris atau Norwegia demi bermain sepak bola untuk timnas China, dapat dipastikan bahwa bayaran untuknya di ranah sepak bola sama sekali tidak sedikit.

Dua tahun lalu, klub-klub China menggelontorkan uang sedemikian banyak untuk pemain-pemain asing, sampai asosiasi sepak bola China memberlakukan pajak sebesar 100% atas transfer pemain non-China.

Pada 2019, gaji tahunan Elkeson mencapai US$11 juta atau setara dengan Rp153 miliar.

Dia pernah satu kali dipanggil timnas Brasil, tapi tidak merumput.

Kini, pada usia 30 tahun, peluangnya untuk mewujudkan mimpi bermain di Piala Dunia terbuka lebar.

5. Punya nama China

Jika seorang pemain China tidak bisa berbahasa Mandarin dengan sempurna, setidaknya dia harus punya nama China agar para pendukung bisa meneriakkan namanya.

Hal yang mirip terjadi pada era 1990-an, tatkala Jepang menaturalisasi pemain asing untuk memperkuat timnasnya.

Ruy Ramos dilafalkan "Ramosu Rui", kemudian Wagner Lopez menjadi "Ropesu Waguna" dan Alex dos Santos menjelma sebagai "Santosu Aresandoro".

Di China, Nico Yennaris kini dikenal dengan nama "Li Ke", pelafalan nama pertamanya dalam bahasa Inggris. Lantas Elkeson menjadi "Ai Kesen".

Adapun Hou Saeter berubah menjadi Hou Yongyong. Namun, nama itu memang nama aslinya lantaran dia memakai nama keluarga ibunya.

Nama paling unik adalah yang disematkan pada Aloisio dos Santos Goncalves, pemain Guangdong Southern Tigers FC, yang menjadi warga negara China, Juli lalu.

Namanya berubah menjadi Luo Guo (negara) Fu (kaya).

6. Menguasai lagu kebangsaan China

"Bangkitlah! Bangkitlah! Bangkitlah!"

Itu adalah penggalan lirik dalam lagu kebangsaan China yang berjudul "Mars Relawan".

Meskipun tidak bisa bahasa Mandarin dengan sempurna, ketika Li Ke dan Elkeson berlaga untuk timnas China, mereka harus bisa menyanyikan lagu tersebut.

Hal itu, menurut aturan asosiasi sepak bola China, wajib bagi para pemain naturalisasi begitu mereka menjadi pemain China.

Dengan demikian, China berharap semua pemainnya bisa menyanyikan lagu kebangsaan dengan lantang apabila mereka berlaga dalam putaran final Piala Dunia 2022 di Qatar.

Sumber: BBC

Loading...
Loading...