Rabu, 05 Desember 2018 12:46 WITA

Juara atau Sahabat, PSM Makassar Butuh Apa?

Editor: Nur Hidayat Said
Juara atau Sahabat, PSM Makassar Butuh Apa?
Ilustrasi.

Sahabatku akan kuhitung setelah aku tertimpa musibah — Ali Bin Abi Thalib.

Kalimat ini menyadarkan sisi kemanusiaan kita soal persahabatan. Soal pentingnya jalin-menjalin kekerabatan. Soal riuh persepakbolaan tanah air terkhusus PSM Makassar.

Sepak bola tidak sedang baik-baik saja, sejak dahulu sampai sekarang. Tidak ada hal yang baru. Cuma medium tempat berbicara yang berubah. Kekesalan mudah ditumpah di media sosial. Kita memang makin berani membicarakan hal yang tabu.

Saya tidak ingin membahas mafia-mafiaan, mafioso, atau don, dalam industri bola sepak dan sepak bola di Indonesia. Bukan. Semua kalangan yang paham sudah membeberkan pandangannya. Biarlah saya jadi pemantau saja, sembari minum kopi dan ngudud.

Baiklah. Saya mulai celotehan tak berbobot ini. Mulai dari 1, 2, 3.

Saya tidak memikirkan PSM juara. Juara syukur, tidak juara tak mengapa. Saya tidak pusing.

Loh loh, kok begitu? Ya, memang. Ngapain juara kalau menjadi semenjana saja, klub ini tetap dicintai oleh segelintir orang. Piala itu cuma barang, bisa lenyap. PSM itu simbol orang Makassar. Itu yang tidak boleh hilang.

Dalam akun Instagram pribadi, saya pernah berbincang dengan kawan yang juga gemar menonton PSM, di mana pun. Kami diskusi banyak hal, soal penonton di Stadion Mattoanging dan klub dari tanah sebelah.

"Kadang saya iri lihat orang luar mencintai klubnya. Main di liga gurem saja, stadionnya penuh," kata teman.

"Iya juga ya."

"Kita, di Makassar, PSM lagi di atas, baru banyak orang yang suka nonton ke stadion. Banyak orang yang membincangkannya, banyak orang yang mencintainya. Tapi coba lihat kalau PSM lagi dalam posisi terpuruk."

"Kenapa kawan?"

"Stadion sepi. Kurang dukungan. Pantas mi kalau investor berpikir mau bikin stadion di sini."

Perbincangan ini bikin saya sadar dan menyodok nurani saya. Apakah saya benar-benar mencintai PSM? Perasaan itu soal subtil dan privasi. Saya belum bisa bilang saya mencintai klub yang pernah dibela Ramang ini, habis-habisan.

Bagaimana tidak. Selama Liga 1, nonton ke stadion saja, saya jarang. Saya tidak punya cukup dana. Kalau soal dukungan, insyaallah, saya akan mati-matian, toh tulisan ini juga tetap saya buat. Semuanya untuk sahabat pendukung PSM. Tanpa terkecuali.

Pendukung PSM, bahasa keminggrisnya supporter, adalah mereka yang banyak mengajarkan cara bersahabat tanpa pandang bulu. Bergaul tanpa sekat. Menangis tidak tahu tempat. Saya mencintai mereka.

Seorang laki-laki jika merasa dirinya maskulin, maka malu sekali melihat dirinya menangis. Tangisan dianggap spesifikasi gender yang mengarah ke perempuan. Apakah suporter yang menangis itu, yang ramai diperbicangkan di media sosial itu, malu? Saya pikir tidak.

Jadi, persoalan menangis atau tidak jangan diarahkan ke gender ya, teman-teman. Oke? Melihat sepak bola bukanlah soal permainan lelaki saja. Ada banyak kehidupan dalam dunia itu. Menarik sekali pokoknya.

"Ikky (panggilan saya), anak-anak supporter itu, banyak yang nakal. Tapi berhenti nakal, kalau lagi dalam stadion. Tidak semua memang. Tapi berapa yang berubah mentalnya karena persoalan sepakbola? Coba hitung."

"Stadion itu, bagai kota dalam kota. Banyak kehidupan dan ekonomi yang berputar di dalam," ujar kawan, pemimpin supporter yang mendukung PSM, dalam satu kesempatan di meja kotak warung kopi.

Maaf jika agak curhat sedikit. Dari kasus di atas, pentolan supporter PSM sudah mengerahkan tenaganya untuk mendukung. Baik saat PSM terjatuh, terseok, dan takbulintak. Klub saja dijadikan sahabat, apalagi orang yang baik di mata mereka? Bayangkan. Pernahkah ia tinggalkan PSM sendiri? Tidak!

Saya takkan menyebut nama. Persoalan perasaan bukan matematis. Tidak bisa diraba atau dihitung-hitung dengan angka. Sejarah mencatat, saat PSM berada di kasta yang tak diakui federasi, mereka tetap berapi-api menyemangati. Bahkan saat pindah kandang ke lain tempat. Seperti harimau kehilangan hutannya.

"Kalau bukan saya, siapami pale yang mau dukung? Banyak orang balik badan waktu PSM susah. Saya tidak mau. Darahku Makassar. Tidak ada dalam kamusku tinggalkan kebanggaan."

Setidaknya kata-kata itu yang akan tetap mengalun di sanubariku, sampai kapanpun dan yakin kalau PSM akan baik-baik saja, meski dihantam prahara. Saya tidak mendoakannya terpuruk. Tetapi sejarah berbicara.

Inilah hadiah itu. Hadiah untuk heroisme mereka yang tak butuh pengakuan. Untuk mereka yang bekerja dalam diam orang. Mereka yang tak mendabik dada bahwa ia paling cinta. Publik Makassar dan pecinta PSM perlu tahu.

Saya beri hormat. Kalaupun saya tidak berpikir soal juara dan angkat piala, dalam hati kecil saya, saya merasa, kita harus melanggengkan kecintaan PSM yang sudah membudaya.

PSM tidak boleh hilang. Mereka yang pergi dan hilang karena waktu, biarlah. Monumen kebanggaan orang Makassar ini tidak boleh. Jangan sampai, setelah stadion Barombong jadi, penonton makin berkurang. Gairah menciut. PSM perlahan hilang diterkam budaya yang kian kejam.

Sampai pada titik yang paling menakutkan, orang lain yang berkunjung ke Makassar atau memantau dari luar, akan bilang: begini ya, orang Makassar? Tidak bisa menjadikan PSM sebagai sahabatnya. Naik dipuja, pas jatuh, dicaci, kemudian ditinggalkan.

Malu itu harus tetap ada. Harus!

Muhammad Almaliki

Penulis lepas yang sedang tidak sibuk apa-apa selain menonton bola dan cerita-cerita.