Rabu, 05 Desember 2018 08:56 WITA

Blak-blakan Hamka Hamzah Perihal Tuduhan Pengaturan Juara Liga 1

Editor: Nur Hidayat Said
Blak-blakan Hamka Hamzah Perihal Tuduhan Pengaturan Juara Liga 1
Hamka Hamzah. (Foto: Arema TV)

RAKYATKU.COM - Hamka Hamzah angkat suara perihal tuduhan Liga 1 sebagai liga yang sudah diatur atau setting-an. Bek senior yang kini bermain untuk Arema FC itu blak-blak secara live di Instagram pribadinya.

Bagi Hamka, tuduhan itu amat menyakitkan bagi pemain. Ia menilai, dua tim yang jadi calon juara Liga 1 2018, Persija Jakarta dan PSM Makassar, memang benar-benar punya kualitas. Punya pemain bagus dan layak menjadi juara tanpa setting-an.

Pemain asal Makassar ini mengaku berang, apalagi tuduhan itu dilakukan menjelang musim berakhir. Padahal, seharusnya harus dilihat bagaimana perjuangan seluruh tim peserta Liga 1 2018 sejak awal musim atau bahkan sebelum kompetisi dimulai.

Untuk menjadi juara, kata dia, klub harus mendatangkan pemain yang bagus. Salah satunya Sriwijaya FC yang sempat bagus, namun akhirnya terperosok terancam di zona degradasi karena kehilangan pemain intinya di putaran kedua.

"Saya sebagai pemain sangat merasa kecewa dengan adanya pernyataan seperti itu. Kami ini pemain di awal musim dikontrak oleh klub untuk menargetkan menjadi juara. Saya yakin 18 klub yang ada di Liga 1 ini menargetkan juara. Jadi kalau dikatakan settingan dari awal salah satu tim menjadi juara itu tidak masuk akal," ujar Hamka.

"Sebagai contoh kita lihat putaran pertama, yang menguasai adalah Barito Putera, Sriwijaya FC, dan Persib Bandung. Sedang Persija dan PSM ini terseok-seok di bawah, padahal kalau setting-an harusnya mereka terus-menerus di papan atas sampai akhir tanpa kalah, ya itu bisa dicurigai. Jadi kalau berandai-andai saat laga sisa empat pertandingan ya semua orang bisa melakukannya," urai eks pemain PSM dan Sriwijaya FC ini.

"Isu ini merebak mungkin karena akibat gencarnya komentar di media sosial. Sehingga memengaruhi pencinta sepakbola Indonesia termasuk fans klub masing-masing. Itu tidak bagus jika tidak memiliki cukup bukti karena itu bisa merusak nama baik klub," tambah pemain yang identik dengan nomor punggung 23 tersebut.

Hamka menilai, jika ada bukti tentang pengaturan skor dan kompetisi, seharusnya langsung dilaporkan sehingga tidak merebak sebagai isu liar yang merugikan. Ia mencontohkan Liga 2.

"Kalau Liga 2 ini yang bagus, mereka membuktikan jika ada pengaturan skor. Ini yang saya suka karena memiliki bukti rekaman percakapan dan penawaran. Sehingga berikan bukti kepada media, dan itu akan memalukan. Terbukti ada berita Exco itu mengundurkan diri dan didenda. Tetapi kalau Liga 1 saya tidak terima, saya suka liga ini," jelas Hamka.

Sebagai pemain senior, Hamka mengaku pernah menemukan kejadian match fixing saat memperkuat Borneo FC. "Saya tidak pernah melihat pemain saya sendiri, tetapi pernah ada dua rekan saya bercerita pernah akan diberikan janji untuk mengalah. Tetapi ternyata dibebaskan karena kami tidak memiliki cukup bukti," tegasnya.

Hamka juga menginginkan adanya perbaikan pada liga di musim depan utamanya pada kualitas wasit. Dia tidak menutup mata jika wasit seringkali menguntungkan tuan rumah.

"Saya tidak tahu soal pengaturan skor, tetapi soal laga yang dipimpin wasit tidak bagus karena menguntung tuan rumah itu sering terjadi. Saya merasakan sebagai pemain. Sehingga ke depan PSSI mungkin harus menaikkan gaji wasit yang memimpin pertandingan. Kedua tentu adalah menjaga wasit itu sendiri misalnya ada pengawalan. Ketiga adalah pemain harus terfokus bermain bola, tidak boleh ada satu orang pun di luar panpel yang berada di area sentel ban," tutupnya.