Jumat, 30 November 2018 20:44 WITA

Tak Gandeng Polisi, PSSI Andalkan Genius Sport Selidiki Pengaturan Skor

Editor: Nur Hidayat Said
Tak Gandeng Polisi, PSSI Andalkan Genius Sport Selidiki Pengaturan Skor
Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria (tengah) dalam acara diskusi PSSI Pers bertajuk Citra Negatif Sepakbola Nasional di Jakarta, Jumat (30/11/2018).

RAKYATKU.COM, JAKARTA - PSSI tak menggandeng kepolisian mengusut praktik pengaturan skor di liga Indonesia. PSSI memercayakan penyelidikan kepada Genius Sport. 

Pengaturan skor mencuat setelah muncul pengakuan dari manajer Madura FC, Januar Herwanto, yang mengaku mendapatkan tawaran pengaturan skor dari anggota Komite Eksekutif PSSI Hidayat. Itu terjadi di Liga 2 saat Madura FC akan melawan PSS Sleman.

PSSI sesungguhnya PSSI sudah sejak dahulu menjalin kerja sama dengan perusahaan data seperti contohnya Sport Radar untuk memberantas pengaturan skor. Akan tetapi, kasus serupa tetap saja terulang.

Pada pengurusan kali ini, PSSI bekerja sama dengan Genius Sport sebagai official data management platform partner. Perusahaan ini akan membantu PSSI melihat sekaligus mengumpulkan data bila ada pertandingan yang terindikasi pengaturan skor.

Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria, mengatakan sejauh ini Genius Sport sedang melakukan investigasi terhadap pertandingan yang dicurigai mengandung pengaturan skor. 

"Genius Sport adalah salah satu, seperti Sport Radar merupakan salah satu partner di FIFA untuk bisa mengidentifikasi pertandingan-pertandingan yang anomali kemudian mengirimkan data-datanya ke kami. Itu sedang berjalan sejak awal tahun ini dari mulai penyelenggaraan liga tertinggi sampai terendah," ujar Tisha dalam acara diskusi PSSI Pers bertajuk Citra Negatif Sepakbola Nasional di Jakarta, dikutip Detik.com, Jumat (30/11/2018).

"Laporan mereka kirimkan secara live, dan apabila ada pertandingan yang perlu diinvestigasi lebih lanjut, PSSI akan menindaklanjuti lebih lanjut. Proses ini bersifat rahasia karena ini adalah investigasi. Kalau ini bersifat terbuka, kami tidak bisa nangkap. Untuk hal-hal yang udah merebak atau ketika investigasi ditemukan hal-hal yang mencurigakan, muncul laporan yang ada dari investigasi, kami laporkan ke Komdis, prosedur organisasi sudah diatur di pasal 72 Komite Disiplin. Komite Disiplin akan melakukan pemanggilan, pencarian fakta lebih lanjut dan berujung pada keputusan," urai Tisha. 

"Jadi posisinya di situ, kami sangat memerangi hal demikian. Bahkan sebelum ini semua jadi pembicaraan, kami sudah mealokasikan dana besar bisa berpartner dengan Genius Sport dan juga bersama-sama dengan AFC untuk set up partnership ini. Sejak 2017 lalu. Jadi posisinya, PSSI sudah melakukam proaktif langkah-langkah sebelum jadi pembicaraan. Kami sudah lakukan kemarin-kemarin, beberapa pemanggilan. Proses itu masih berlangsung, Komdis bersidang," Tisha membeberkan. 

Menurut Tisha, sejauh ini, sudah ada dua temuan pertandingan dari seluruh kompetisi Indonesia yang terindikasi pengaturan skor. PSSI berharap kasus ini bisa selesai sampai tuntas.

"Di kategori Genius Sport, memiliki dua flag saja, satu yellow flag yang belum tentu harus hanya ada tanda-tanda yang perlu investigasi lanjut," ujar Tisha. 

"Red flag sudah pasti, sehingga harus investigasi. Red flag dari seluruh pertandingan Indonesia itu dua, itu sudah kami investigasi sejak beberapa bulan lalu. Sisanya ada yellow, kami investigasi ternyata tidak. Kami mendapatkan sangat sedikit dari seluruh laga yang diamati. Posisinya saat ini sangat sedikit, itu pun empat bulan lalu kami investigasi," kata dia.

Belum Libatkan Polisi

Pengaturan skor mencuat di Liga 2 dan Liga 1 belakangan ini. Manajer Madura FC, Januar Hermanto, mengungkapkan keterlibatan petinggi PSSI, Hidayat. Mantan runer pengaturan skor, Bambang Suryo, juga menyebut sosok penting dalam aksi-aksi suap di sepakbola Indonesia, Vigit Waluyo. 

Meskipun sudah muncul nama dan klub yang terlibat, namun PSSI tak melaporkan kepada kepolisian. Tisha mengatakan PSSI belum melaporkan kasus tersebut kepada kepolisian lantaran proses dalam internal organisasi belum rampung. Menurut dia, prosedur memang panjang, dari pemanggilan, persidangan, bahkan jika diperlukan ada persidangan lebih lanjut.

"Bagaimana melaporkan kepada polisi kalau persidangan di PSSI-nya saja belum selesai. Kami harus menyelesaikan persidangan di PSSI-nya. Kemudian apabila itu dibutuhkan dan itu melanggar hukum positif, dugaan melanggar hukum positif negara, kami akan laporkan pasti," kata Tisha.