Senin, 23 Juli 2018 13:44 WITA

Mundur dari Timnas Jerman, Ini Isi Surat Terbuka Mesut Ozil yang Menyayat Hati

Editor: Abu Asyraf
Mundur dari Timnas Jerman, Ini Isi Surat Terbuka Mesut Ozil yang Menyayat Hati
Mesut Ozil dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

RAKYATKU.COM - Pemain berdarah Turki, Mesut Ozil akhirnya mengundurkan diri dari Timnas Jerman. Dia kecewa kritik dari federasi sepak bola Jerman (SFB) terkait fotonya bersama Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Dia menyampaikan surat terbuka yang mengharukan.

Pada Minggu (22/7/2018), bintang Arsenal ini memposting surat terbuka di akun Twitternya. Dia menjelaskan panjang lebar bahwa pertemuannya dengan Erdogan sama sekali tak punya muatan politik.

Sebelumnya, federasi sepak bola Jerman (DFB) dan Kanselir Jerman, Steffen Seibert khawatir foto tersebut menimbulkan kesalahpahaman, mengingat pemain 29 tahun tersebut amatlah populer di Jerman maupun Turki.

Berikut isi beberapa bagian dari isi surat terbuka Mesut Ozil:

Seperti kebanyakan orang, nenek moyang tidak hanya berasal dari satu negara saja. Sementara saya tumbuh besar di Jerman, latar belakang keluarga saya punya akar Turki. 

Saya punya dua hati, satu Jerman dan satunya Turki. Sejak kecil, ibu saya mengajari untuk selalu menghargai dan tidak boleh melupakan asal muasal saya, dan sampai sekarang nilai ini selalu saya pegang.

Pada Mei lalu, saya bertemu dengan Presiden Erdogan di London, ketika menghadiri acara amal dan edukasi. Kami pertama kali bertemu pada tahun 2010 ketika beliau dan Angela Markel menonton laga Jerman vs Turki bersama-sama di Berlin. 

Sejak saat itu, kami sering bertemu secara tidak sengaja di banyak tempat di dunia. Saya tahu jika foto kami menjadi pemberitaan besar di media Jerman, dan sementara banyak orang menuduh saya berbohong atau penuh dusta, tapi foto kami tidak memuat intensi politik.

Pekerjaan saya adalah sebagai pesepak bola, bukan politikus, dan pertemuan kami bukan sebuah bentuk dukungan politik. Faktanya, ketika kami bertemu, topik obrolan masih sama, yaitu sepak bola karena beliau juga pemain sepak bola di masa mudanya.

Dengan berat hati dan banyak pertimbangan atas kejadian belakangan ini, saya tak akan lagi bermain untuk Jerman di level internasional selagi saya merasakan rasisme dan sikap tidak hormat.

Saya telah mengenakan kostum Jerman dengan penuh rasa bangga dan kegembiraan, tapi sekarang tidak lagi. Keputusan ini sangat sulit untuk dibuat karena saya selalu memberikan segalanya bagi rekan-rekan, staf pelatih dan orang-orang baik di Jerman.

Namun ketika para petinggi DFB memperlakukan saya seperti sekarang ini, tidak menghormati garis keturunan Turki saya dan secara egois menyebut saya melakukan propaganda politik, maka saya rasa sudah cukup.

Itu bukan alasan saya bermain sepak bola, dan saya tidak akan diam saja tanpa melakukan apapun. Rasisme seharusnya tidak akan pernah bisa diterima.