Sabtu, 14 Juli 2018 07:30 WITA

Hasil Penelitian: Lompatan Kiper pada Adu Penalti Hanya untuk Hindari Penyesalan

Editor: Abu Asyraf
Hasil Penelitian: Lompatan Kiper pada Adu Penalti Hanya untuk Hindari Penyesalan
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM - Beberapa laga di Piala Dunia 2018 berakhir dengan adu penalti. Terakhir, laga semifinal antara Indonesia U-19 melawan Malaysia juga ditutup dengan drama titik putih. Nah, yang menarik, berapa tendangan yang sukses dimentahkan kiper?

Jawabannya hampir seragam. Hanya sebagian kecil tendangan penalti yang bisa digagalkan kiper. Padahal, pada setiap tendangan, kiper manapun di dunia, selalu melompat ke kiri atau ke kanan. Hasil penelitian menunjukkan keputusan kiper melompat ke kiri atau ke kanan justru tindakan bias.

Lantas, mana yang lebih baik bagi seorang kiper? Melompat ke arah kiri, kanan atau hanya tetap di tengah gawang saat adu penalti. Menurut ahli, tetap di tengah mungkin adalah pilihan yang lebih baik. 

Dilansir dari The Guardian, Rabu (11/7/2018), dalam drama adu penalti ternyata 39,2 persen arah tendangan penalti ke arah tengah, 32,1 persen ke arah kiri dan 28,7 persen ke arah kanan. 

Sementara itu, sebagian besar kiper cenderung melompat ke arah kiri (49,3 persen) atau kanan (44,4 persen) daripada tetap diam di tengah (6,3 persen). Keputusan tersebut juga dilakukan oleh kiper yang sudah berpengalaman. 

Michael Bar-Eli, seorang ahli psikolog bidang olahraga di Universitas Ben-Gurion dan Zinman College, menjelaskan, keputusan kiper untuk melompat adalah tindakan bias.

Tindakan bias adalah kecenderungan untuk mengambil keputusan ketika sebetulnya tidak melakukannya justru lebih baik. Salah satu alasan munculnya tindakan tersebut adalah untuk menghindari rasa menyesal. 

Bisa Anda bayangkan tekanan mental yang dihadapi seorang kiper ketika menghadapi tendangan penalti di hadapan ribuan suporter yang berharap dirinya dapat menahan bola. 

Namun, banyak penjaga gawang yang tidak menyadari bahwa ketika mereka gagal menahan tendangan penalti, para suporter menganggapnya sebagai ketidakberuntungan saja. 

Dalam sebuah penelitian oleh tim psikolog di Belanda, terungkap jika seseorang mendapatkan serentetan hasil negatif dalam sebuah tugas, maka mereka akan lebih cenderung melakukan sesuatu daripada tidak melakukan apa-apa. 

Saat diminta memberikan alasannya, sebagian besar jawaban peserta adalah untuk menghindari rasa menyesal karena dianggap tidak berusaha. Namun, diam tidak melakukan apa-apa bukan berarti hanya diam seperti patung. 

Menurut Ander Spicer, seorang ahli perilaku organisasional di Cass Business School di London, keputusan yang tepat biasanya didahului dengan diam sementara waktu untuk melakukan evaluasi. Spicer mencontohkan, seorang petenis profesional akan mengulur waktu agak lama agar bisa berpikir dan menentukan arah bola saat mengeluarkan pukulan terbaiknya. 

Dalam tulisannya yang dimuat di The Guardian, Rabu (11/7/2018), Spicer menjelaskan, ketika seorang kiper berhadapan dengan penendang saat adu penalti, alangkah lebih baik untuk diam dan menganalisis segala kemungkinan, termasuk kecenderungan arah bola si penendang ketika drama adu penalti. 

Berita Terkait